Example floating
Example floating
Ekonomi Bisnis

Penyebab Harga Sawit Turun, Ekspor Lesu dan Bursa Malaysia Melemah

×

Penyebab Harga Sawit Turun, Ekspor Lesu dan Bursa Malaysia Melemah

Sebarkan artikel ini
Harga Sawit Per Kg Hari Ini Melemah, Petani Cermati Pergerakan CPO Global/tulisankita

Tulisankita.com – Harga sawit kembali bergerak melemah dan memicu perhatian pelaku pasar perkebunan.

Penurunan harga CPO atau crude palm oil di pasar domestik dan internasional mulai berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) di sejumlah wilayah sentra sawit Sumatera.

Data perdagangan yang dirilis PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), menunjukkan harga CPO pada Kamis, 21 Mei 2026, turun lagi menjadi Rp12.285 per kilogram.

BACA JUGA : Status Gajah Sumatera Kian Kritis, WWF Indonesia Gelar Proyek Agroforestry Lanskap Peusangan Aceh, Dananya Milyaran

Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan pasar global dan lesunya ekspor minyak sawit. Pergerakan negatif juga terlihat di Bursa Malaysia yang mencatat harga CPO melemah selama dua hari berturut-turut.

Situasi itu ikut memengaruhi sentimen perdagangan kelapa sawit di Indonesia, mengingat Malaysia dan Indonesia merupakan dua produsen sawit terbesar dunia.

Penyebab Harga Sawit Turun Hari Ini

Penurunan harga sawit tidak terjadi tanpa alasan. Ada sejumlah faktor yang membuat harga CPO dan TBS bergerak turun dalam beberapa hari terakhir.

BACA JUGA : Dua Gajah Sumatera Mati, Menhut Raja Juli Cabut Izin PT API dan PT BAT di Bengkulu!

Berikut pemicu utama pelemahan harga sawit:

  • Lesunya permintaan ekspor dari pasar global membuat stok CPO meningkat sehingga menekan harga jual.
  • Bursa Malaysia mengalami koreksi akibat kekhawatiran perlambatan perdagangan komoditas nabati dunia.
  • Pergerakan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif turut memengaruhi pasar biodiesel berbasis sawit.
  • Persaingan minyak nabati lain seperti soybean oil dan sunflower oil membuat tekanan harga semakin besar.
  • Pelaku pasar mulai mengambil posisi wait and see terhadap arah kebijakan ekonomi global dan permintaan industri pangan.

Informasi dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI juga memperlihatkan tekanan pasar masih terasa pada perdagangan komoditas sawit hingga pertengahan Mei 2026.

Harga TBS Sawit di Sumatera Ikut Melemah

Turunnya harga CPO langsung berdampak pada harga TBS sawit di berbagai daerah penghasil kelapa sawit.

Laporan GAPKI Sumatera Utara menyebut harga TBS periode 13 sampai 19 Mei 2026 mengalami penurunan.

Situasi serupa juga terlihat di beberapa wilayah Sumatera lainnya yang mulai mencatat koreksi harga pembelian di tingkat pabrik.

Koreksi harga ini membuat pendapatan petani sawit berpotensi tertekan, terutama bagi pekebun mandiri yang sangat bergantung pada harga harian TBS.

Beberapa petani mulai mencermati:

  • Selisih harga jual TBS dengan biaya operasional kebun.
  • Dampak penurunan harga pupuk dan ongkos distribusi.
  • Potensi perubahan harga dalam beberapa pekan mendatang.
  • Arah kebijakan ekspor sawit pemerintah.

Harga Sawit Per Kg Hari Ini Masih Dipengaruhi Pasar Global

Perdagangan sawit saat ini tidak hanya ditentukan faktor domestik. Harga sawit per kg hari ini sangat dipengaruhi kondisi global, mulai dari ekspor, nilai tukar dolar AS, hingga pergerakan komoditas energi dunia.

Ketika permintaan ekspor melambat, harga sawit cenderung mengalami tekanan. Sebaliknya, jika permintaan biodiesel meningkat atau stok global menurun, harga CPO biasanya kembali menguat.

Pelaku industri menilai pergerakan harga sawit dalam jangka pendek masih akan fluktuatif karena pasar sedang mencari keseimbangan baru antara pasokan dan permintaan.

Dampak Penurunan Harga Sawit bagi Petani dan Industri

Harga sawit anjlok tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga memengaruhi rantai industri secara luas.

Beberapa sektor yang ikut terdampak antara lain:

  • Industri pengolahan minyak goreng.
  • Perusahaan ekspor CPO.
  • Pabrik kelapa sawit.
  • Transportasi logistik hasil perkebunan.
  • Sektor biodiesel dan energi nabati.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih berharap harga sawit bisa kembali stabil apabila ekspor membaik dan permintaan global meningkat pada semester kedua 2026.

Arah Harga Sawit Selanjutnya

Pasar kini menunggu perkembangan ekspor dan pergerakan Bursa Malaysia sebagai acuan utama perdagangan sawit regional.

Jika tekanan ekspor terus berlanjut, harga sawit berpotensi bergerak terbatas. Namun bila permintaan dari negara importir utama mulai pulih, peluang rebound harga masih terbuka.

Petani dan pelaku usaha sawit juga disarankan terus memantau data resmi dari KPBN, GAPKI, dan pasar internasional untuk membaca arah pergerakan harga sawit berikutnya.

Disclaimer: Data harga sawit dan CPO disadur dari KPBN, GAPKI, GAPKI Sumut, serta publikasi pasar komoditas Mei 2026.