Example floating
Example floating
Ekonomi Bisnis

Saham Sawit Berguguran Usai Rilis BUMN Ekspor Baru Prabowo, AALI hingga TAPG Tertekan, Ini Daftar Lengkapnya

×

Saham Sawit Berguguran Usai Rilis BUMN Ekspor Baru Prabowo, AALI hingga TAPG Tertekan, Ini Daftar Lengkapnya

Sebarkan artikel ini
Kondisi perdagangan emiten sawit di BEI, Kamis, 21 Mei 2026/AI/tulisankita

Tulisankita.com – Saham emiten sawit di Bursa Efek Indonesia atau BEI, pada perdagangan, 21 Mei 2026 bergerak fluktuatif.

Dominasi tekanan jual ini terjadi setelah pasar merespons arah kebijakan baru pemerintah terkait pembentukan BUMN pengatur ekspor sejumlah komoditas strategis Indonesia.

Sentimen tersebut membuat investor mulai menghitung ulang potensi dampak terhadap tata niaga crude palm oil (CPO), ekspor turunan sawit, hingga margin perusahaan perkebunan besar.

BACA JUGA : Penyebab Harga Sawit Turun, Ekspor Lesu dan Bursa Malaysia Melemah

Pergerakan perdagangan 21 Mei 2026 memperlihatkan mayoritas saham sawit mengalami koreksi, terutama emiten yang terafiliasi grup konglomerasi besar.

Tekanan pasar muncul bersamaan dengan melemahnya harga CPO global dan lesunya perdagangan Bursa Malaysia.

Kelompok saham sawit big caps menjadi sorotan utama karena memiliki eksposur besar terhadap pasar ekspor.

BACA JUGA : Jangan Tengkar! Ini Beda Tugas, Wewenang, Tanggung Jawab Manajer dan Pengurus Koperasi Merah Putih

• PT Astra Agro Lestari Tbk atau AALI ditutup di level 6.525 setelah bergerak di rentang 6.400 hingga 6.775.

Saham ini turun 225 poin dengan volume perdagangan mencapai 4,53 juta lembar saham dan nilai transaksi sekitar Rp29,66 miliar.

Kapitalisasi pasar emiten Grup Astra ini berada di kisaran Rp3,068 triliun berdasarkan data perdagangan harian.

• PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR mengalami tekanan lebih dalam. Saham SMAR bergerak dari level tertinggi 5.100 hingga terendah 4.810 dan ditutup di posisi 4.810. Koreksi mencapai 290 poin dengan volume transaksi 183 ribu saham senilai Rp906 juta.

• PT Salim Ivomas Pratama Tbk atau SIMP ditutup melemah ke level 535 setelah sempat menyentuh area 560. Saham Grup Salim ini turun 25 poin dengan transaksi mencapai 30,05 juta saham dan nilai perdagangan sekitar Rp16 miliar.

• PT PP London Sumatra Indonesia Tbk atau LSIP juga bergerak turun ke posisi 1.295 dari area tertinggi 1.360.

Saham LSIP terkoreksi 55 poin dengan volume perdagangan mencapai 15,48 juta saham dan nilai transaksi sekitar Rp20,31 miliar.

Tekanan juga terjadi pada kelompok emiten sawit menengah yang selama ini aktif memproduksi CPO dan turunannya.

• PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG ditutup di level 1.505 setelah bergerak di rentang 1.480 hingga 1.565. Saham ini turun 20 poin dengan volume perdagangan sangat besar mencapai 70,52 juta saham senilai Rp106,3 miliar. Nilai transaksi tersebut menjadikan TAPG salah satu saham sawit teraktif pada perdagangan kemarin.

• PT Dharma Satya Nusantara Tbk atau DSNG melemah tipis ke level 1.280. Perdagangan DSNG tercatat mencapai 7,33 juta saham dengan nilai transaksi Rp9,24 miliar.

• PT Eagle High Plantations Tbk atau BWPT mengalami tekanan signifikan. Saham ini turun ke level 84 dari posisi tertinggi 97. Koreksi mencapai 11 poin dengan volume transaksi jumbo sebesar 137,82 juta saham.

• PT Tunas Baru Lampung Tbk atau TBLA ditutup pada level 625 setelah bergerak di kisaran 615 hingga 635. Nilai transaksi saham ini mencapai sekitar Rp2,51 miliar.

• PT Cisadane Sawit Raya Tbk atau CSRA bergerak melemah ke posisi 835 dengan volume perdagangan relatif kecil sebesar 264 ribu saham.

• PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk atau NSSS menjadi salah satu saham dengan tekanan terdalam. Saham ini turun 79 poin dan ditutup pada level 486 setelah sebelumnya sempat berada di area 575.

• PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk atau CEKA terkoreksi ke posisi 2.330 dengan transaksi mencapai Rp469 juta.

• PT Teladan Prima Agro Tbk atau TLDN juga turun ke level 525 setelah bergerak di rentang 515 hingga 560.

• PT Citra Borneo Utama Tbk atau CBUT ditutup di posisi 605 setelah melemah 95 poin. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi terbesar di kelompok saham sawit menengah.

Pelaku pasar melihat tekanan di sektor sawit tidak hanya dipengaruhi sentimen harga CPO global, tetapi juga munculnya kekhawatiran terhadap potensi perubahan mekanisme ekspor komoditas nasional.

Investor mulai menunggu detail teknis terkait peran BUMN baru yang disebut akan mengatur ekspor beberapa komoditas strategis Indonesia.

Pasar juga masih mencermati sejumlah faktor lain yang mempengaruhi saham sawit:

• Melemahnya harga CPO Malaysia dalam dua hari terakhir.
• Perlambatan permintaan ekspor dari negara tujuan utama.
• Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
• Sentimen terhadap kebijakan ekspor dan tata niaga komoditas.
• Potensi perubahan margin industri perkebunan dan refinery sawit.

Meski mayoritas saham sawit melemah, investor institusi masih terlihat aktif pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti AALI, TAPG, LSIP, dan SIMP.

Aktivitas transaksi yang tetap tinggi menunjukkan sektor sawit masih menjadi salah satu fokus utama investor domestik maupun asing di tengah dinamika pasar komoditas global.

Disclaimer : Data perdagangan saham disadur dari Ringkasan Saham Bursa Efek Indonesia (IDX) periode perdagangan 21 Mei 2026 dan diolah kembali untuk kepentingan informasi publik.