Example floating
Example floating
Ekonomi BisnisNasional

Status Gajah Sumatera Kian Kritis, WWF Indonesia Gelar Proyek Agroforestry Lanskap Peusangan Aceh, Dananya Milyaran

×

Status Gajah Sumatera Kian Kritis, WWF Indonesia Gelar Proyek Agroforestry Lanskap Peusangan Aceh, Dananya Milyaran

Sebarkan artikel ini
WWF-Indonesia Gelar Proyek Agroforestry di Habitat Gajah Sumatera/WWF Indonesia/tulisankita

Tulisankita.com – Ancaman kepunahan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis)  akibat ruang gerak alami yang terus menyempit, terus mengundang keprihatinan dan langkah nyata.

Lembaga konservasi WWF-Indonesia bakal melaksanakan proyek pengadaan kebutuhan agroforestry dan habitat improvement.

Proyek ini difokuskan pada wilayah konsesi PT Tusam Hutani Lestari (PT THL) serta kawasan sempadan Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Aceh untuk memulihkan fungsi ekologis hutan sekaligus menopang roda ekonomi masyarakat lokal.

BACA JUGA : Sebab Gajah Bengkulu Mati Masih Misteri, Menhut Raja Juli Bilang Gini

Melansir informasi resmi dari situs kemitraan WWF-Indonesia, total anggaran yang dialokasikan senilai IDR 2,054,200,500.

Seluruh proyek dijalankan dengan linimasa yang ketat, di mana proses solicitation atau penawaran dibuka sejak 13 hingga 25 Mei 2026.

Sementara itu, tahapan penjelasan tender atau aanwijzing dijadwalkan berlangsung via Zoom Meeting pada 21 Mei 2026 pukul 10.00 WIB dengan Meeting ID 217 381 0920 dan password P@nd@.

Selepas batas akhir pengumpulan dokumen pada 25 Mei, tim akan melakukan evaluasi komprehensif sebelum pemenang resmi diumumkan pada 30 Mei 2026.

BACA JUGA : Hari Buku Nasional 2026: Tamparan Keras Data UNESCO vs Fakta Mengejutkan Minat Membaca di Indonesia

Gerusan Habitat Gajah Pengancam Punah

Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), status gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) kini berada di jurang paling mengkhawatirkan, yakni Critically Endangered atau berstatus kritis.

Mengingat fungsinya sebagai satwa kunci yang menjaga keseimbangan ekosistem, kehancuran populasi raksasa ramah ini akan memicu efek domino bagi kelestarian hutan tropis secara keseluruhan.

Penyusutan populasi yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini, berakar dari masalah pelik yang belum sepenuhnya terurai.

Fragmentasi lahan masif akibat alih fungsi hutan menjadi area permukiman, perkebunan sawit, pertanian, serta pembangunan proyek infrastruktur telah memotong jalur jelajah tradisional mereka.

Sempitnya ruang hidup ini memicu lonjakan konflik destruktif antara manusia dan gajah di berbagai wilayah, termasuk di wilayah krusial Lanskap Peusangan yang melintasi Kabupaten Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Utara.

Kebutuhan Program Agroforestry Seluas 147 Hektare (Mencakup 7 Desa)

Program ini menyasar wilayah Alur Gading, Simpang Lancang, Musarapakat, Blang Ara, Alur Cincin, Negeri Antara, dan Salah Siron Jaya dengan kebutuhan hayati serta sarana pendukung sebagai berikut:

  • Bibit Kopi Robusta: 138.800 bibit

  • Bibit Jeruk Nipis: 47.771 bibit

  • Bibit Kakao: 27.218 bibit

  • Bibit Alpukat: 8.847 bibit

  • Bibit Kopi Arabika: 2.600 bibit

  • Bibit Jeruk Sayur: 2.295 bibit

  • Bibit Petai Papan: 1.800 bibit

  • Bibit Durian: 1.328 bibit

  • Bibit Jeruk Lemon: 345 bibit

  • Bibit Kemiri: 318 bibit

  • Paranet Pelindung: 76 rol

  • Drum Penampung: 48 unit

  • Kawat dan Tali Wingstar: masing-masing 31 kg dan 30 rol

  • Paku Kehutanan: 22 kg

  • Jerigen 5 Liter, Gunting Pruning Haston, dan Gergaji Lipat DEKO: masing-masing 140 unit

  • Pupuk Organik Cair (POC): 540 liter untuk kopi dan 420 liter untuk kakao

  • Perlengkapan Tambahan: 6 unit mesin pompa air, 6 unit sprayer, 6 unit selang air, 6 paket fungisida/insektisida, 6 unit papan informasi, 6 buah semprotan air, dan 30 batang pipa ukuran 3/4 inci.

Program Habitat Improvement di Area Konsesi PT THL Seluas 6 Hektare

Restorasi di kawasan koridor korporasi ini difokuskan pada pengayaan pakan gajah dan pembuatan pagar batas aman:

  • Bibit Tanaman Utama (Macaranga tanarius): 2.274 batang

  • Bibit Tanaman Pagar (Gliricidia sepium): 690 batang

  • Bibit Rumput Pakan (King Grass dan Pennisetum purpureum): masing-masing 228 karung

  • Pupuk Penyubur Lahan: 24 karung

  • Perangkat Pengaman: 60 unit lonceng pagar dan 60 unit lampu pagar

  • Suplemen Satwa: 60 pack garam mineral krosok (total kemasan 500 kg) dan 30 pack mineral blok kemasan 1 kg

  • Alat Kerja: 4 unit tang, 15 gulung kawat ukuran 1 mm sepanjang 10 meter, dan 3 lembar plastik liner geomembrane tebal 300 mikron seluas 25 meter persegi per unit.

Program Habitat Improvement di Area DAS Peusangan Seluas 30 Hektare

Zona penyangga sungai ini dibagi rata ke dalam 3 desa dengan target luasan masing-masing 10 hektare demi mengembalikan kekuatan cengkeraman tanah sekaligus menyediakan pakan alami:

  • Bibit Bambu Petung (Dendrocalamus asper): 3.600 rumpun

  • Bibit King Grass: 1.315 karung ukuran 50 kg

  • Pengadaan Pupuk Pendukung: 54 karung

Langkah masif yang dikoordinasikan oleh WWF-Indonesia ini menjadi sinyal kuat bahwa pemulihan habitat gajah sumatera tidak bisa lagi ditunda.

Dengan mengintegrasikan sistem tanaman komoditas masyarakat (multipurpose tree species) dan pemulihan vegetasi pakan asli gajah.

Proyek di Lanskap Peusangan ini diharapkan menjadi cetak biru penanganan konflik satwa dan manusia yang berkelanjutan di tanah rencong.

Informasi lengkap klik di sini 

Disclaimer: Informasi yang termuat dalam artikel ini bersumber dari rilis resmi dokumen pengadaan WWF-Indonesia terkait program pemulihan Lanskap Peusangan Aceh. Artikel ini ditulis ulang dengan tujuan penyebarluasan informasi publik, edukasi konservasi, serta transparansi proses pengadaan berbasis lingkungan.