Sorotan terhadap PNM Mekaar semakin tajam setelah Presiden Prabowo Subianto meminta suku bunga pembiayaan ultra mikro itu dipangkas dari sekitar 24 persen menjadi di bawah 9 persen.
Di tengah dorongan tersebut, laporan keuangan resmi PT Permodalan Nasional Madani (PNM) tahun 2025 membuka gambaran besar tentang kekuatan sekaligus tantangan bisnis perusahaan pelat merah tersebut.
BACA JUGA : Prabowo Tekan Suku Bunga PNM Mekaar, dari 24% Kini Bisa di Bawah 9%
PNM atau PT Permodalan Nasional Madani merupakan Danantara (sebelumnya BUMN) yang fokus pada pembiayaan dan pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro, termasuk melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar).
Mengutip Laporan Keuangan Tahunan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Entitas Anaknya Tahun 2025, posisi keuangan konsolidasian PNM dan entitas anak per 31 Desember 2025 menunjukkan total aset perusahaan mencapai Rp57,01 triliun.
Nilai itu meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di level Rp55,36 triliun. Kenaikan aset tersebut terutama ditopang pertumbuhan penyaluran pinjaman dan pembiayaan modal.
BACA JUGA : POJK Nomor 4 Tahun 2026 Terbit, Aset Syariah RI Melonjak Tembus Rp10 Ribu Triliun
Berikut poin penting laporan keuangan PNM 2025:
- Pinjaman yang diberikan bersih mencapai Rp44,74 triliun, naik dari Rp43,59 triliun pada 2024.
- Pembiayaan modal bersih meningkat menjadi Rp1,69 triliun dari sebelumnya Rp1,43 triliun.
- Portofolio efek yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi melonjak menjadi Rp1,73 triliun.
- Kas dan setara kas tercatat Rp2,72 triliun.
- Total ekuitas naik menjadi Rp11,66 triliun dari Rp10,55 triliun.
- Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya meningkat menjadi Rp7,07 triliun.
- Aset tetap dan aset hak guna mencapai Rp3,08 triliun.
Di sisi lain, struktur pendanaan PNM juga menunjukkan tekanan biaya yang tidak kecil. Hal ini menjadi salah satu perhatian dalam wacana penurunan bunga pinjaman Mekaar.
Berikut rincian utama liabilitas PNM 2025:
- Utang bank dan lembaga keuangan mencapai Rp21,15 triliun.
- Surat utang jangka menengah dan sukuk naik signifikan menjadi Rp8,05 triliun.
- Pinjaman dari Pemerintah Republik Indonesia dan lembaga kredit luar negeri mencapai Rp7,28 triliun.
- Dana cadangan angsuran tercatat Rp3,45 triliun.
- Utang obligasi masih berada di level Rp2,67 triliun.
Jika ditotal, liabilitas PNM mencapai Rp45,34 triliun pada akhir 2025. Angka tersebut naik dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp44,80 triliun.
Data ini memperlihatkan bahwa PNM masih sangat bergantung pada sumber pendanaan eksternal untuk menjaga ekspansi pembiayaan ultra mikro ke jutaan nasabah Mekaar di berbagai daerah.
Permintaan Presiden Prabowo Subianto agar bunga Mekaar ditekan hingga di bawah 9 persen dinilai menjadi tantangan besar karena model bisnis ultra mikro memiliki biaya operasional tinggi.
Program Mekaar selama ini mengandalkan pendampingan kelompok, kunjungan lapangan, hingga edukasi usaha yang membutuhkan biaya cukup besar.
Meski demikian, kenaikan laba ditahan dan penguatan ekuitas memberi sinyal bahwa ruang efisiensi tetap terbuka apabila didukung skema subsidi, penjaminan pemerintah, atau biaya dana yang lebih murah.
Sejumlah pengamat juga menilai transformasi digital dan efisiensi operasional akan menjadi faktor penting jika pemerintah serius ingin menurunkan bunga pembiayaan ultra mikro tanpa mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.
Di tengah dorongan penurunan bunga, laporan keuangan PNM 2025 memperlihatkan satu hal penting: permintaan pembiayaan ultra mikro di Indonesia masih sangat besar dan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat kecil.










