Tulisankita.com – Gemar membaca, masih menjadi tantangan di Indonesia. Hari ini tanggal 17 Mei, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional.
Momentum ini sering kali menjadi panggung untuk meratapi potret buram literasi di tanah air.
Kita tentu belum lupa dengan data UNESCO yang sempat viral dan menyentil keras ego bangsa ini.
Badan PBB untuk pendidikan itu bilang minat baca Indonesia hanya berada di angka 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.
Namun, tepat di Hari Buku Nasional 2026, benarkah kondisinya masih seburuk itu? Menilik data statistik minat baca di Indonesia yang dirilis secara berkala, ada pergeseran perilaku yang menarik untuk dibedah secara mendalam.
Fakta Baru BPS: Provinsi dengan Minat Baca Tertinggi di Indonesia
Jika melihat potret di lapangan, tantangan literasi di setiap wilayah di Indonesia sangat bervariasi.
BACA JUGA : Literasi Hukum, Pemdes dan BPD Tanjung Harapan Ikuti Sosialisasi
Laporan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) rilisan Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 untuk data tahun lalu, indeks kegemaran membaca masyarakat terus mengalami fluktuasi yang kompetitif di berbagai daerah.
Provinsi di pulau Jawa dan Bali secara konsisten menunjukkan angka yang cukup kuat. Sebagai contoh, Provinsi Jawa Timur mencatatkan angka Tingkat Kegemaran Membaca sebesar 58,86.
Lalu disusul oleh Banten di angka 56,53. Angka-angka ini menjadi indikator penting bahwa di tingkat regional, stimulus untuk menggenjot budaya baca terus berjalan.
Meskipun jurang pemisah (gap) antarprovinsi di luar pulau Jawa, masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah.
Ledakan Literasi Digital: Bergeser ke Layar Gawai
Menariknya, rendahnya minat baca konvensional (buku fisik) tampaknya mulai terkompensasi oleh masifnya migrasi ke platform digital.
Minat membaca di Indonesia tidak sepenuhnya mati, melainkan mengalami evolusi medium.
Dikutip dari Perpusnas, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Aminudin, menjelaskan, minat masyarakat pada layanan digital Perpusnas justru mengalami peningkatan pesat pasca-pandemi.
Tidak tanggung-tanggung, angka akses secara daring telah menembus lebih dari 30 juta akses daring.
“Perpusnas terus genjot peningkatan budaya baca dan literasi masyarakat,” jelas Aminudin dalam keterangannya.
Fenomena 30 juta akses ini membuktikan bahwa ketika buku fisik sulit dijangkau karena kendala geografis atau harga, masyarakat Indonesia—khususnya generasi muda—memilih alternatif membaca lewat layar smartphone mereka.
Tantangan Harbuknas 2026: Dari “Minat Baca” ke “Daya Baca”
Dengan fakta di atas, narasi bahwa “orang Indonesia malas membaca” tampaknya perlu dikoreksi.
Masalah utama hari ini bukan lagi sekadar minat baca, melainkan kualitas apa yang dibaca (daya baca) dan bagaimana ketersediaan aksesnya.
Masyarakat kita menghabiskan waktu berjam-jam membaca informasi di internet, namun tantangannya adalah bagaimana mengarahkan ketertarikan tersebut ke arah bacaan yang berbobot dan edukatif, bukan sekadar berita sensasional atau hoaks.
Di Hari Buku Nasional 2026 ini, pekerjaan rumah terbesar bagi Perpusnas, pegiat literasi, dan pemerintah daerah adalah menyetarakan fasilitas.
Provinsi dengan minat baca terendah harus didorong dengan perpustakaan digital yang inklusif, agar data statistik literasi nasional tidak lagi timpang.
Disclaimer: Artikel analitis ini disusun dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional 2026 menggunakan rujukan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Perpustakaan Nasional RI, dan studi literasi global. Ditujukan untuk memberikan perspektif yang objektif dan berimbang mengenai kondisi literasi nasional terkini.










