Ancaman pagebluk anyar, usai Covid-19 bisa saja terjadi jika tak cepat diantisipasi. Penyakit zoonosis teranyar dari tikus. Hantavirus, namanya. Penyakit lama, yang kembali mencuat ke permukaan.
Israel turut mengonfirmasi paparan kasus pertamanya. Mungkinkah bakal menjadi pagebluk global atau aksi perburuan vaksin kembali terjadi?
Bukan tanpa alasan, virus yang dibawa oleh tikus ini memiliki tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) yang sangat mengkhawatirkan, yakni mencapai hingga 50% pada tipe tertentu.
Baca Juga : Banyak Manfaat Apel Hijau bagi Kesehatan yang perlu Anda ketahui
Penularan Rentan Lewat Udara
Banyak masyarakat mengira bahwa penyakit dari tikus hanya menular melalui gigitan atau makanan. Namun, Hantavirus memiliki mekanisme yang lebih licik.
Dikutip dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, virus ini menyebar melalui debu yang terkontaminasi oleh urin, feses, atau air liur tikus.
Proses ini dikenal sebagai aerosolized excreta. Seseorang dapat tertular hanya dengan menghirup partikel udara di lingkungan yang menjadi sarang tikus, atau melalui kontak langsung dengan luka terbuka pada kulit.
Baca Juga : Beberapa Manfaat Infus Water Lemo Untuk Kesehatan Anda
Inilah yang membuat Hantavirus sangat berbahaya karena penularannya bisa terjadi tanpa kita sadari di area yang sanitasinya buruk.
Dua Wajah Penyakit: HFRS dan HPS
Hantavirus tidak menyerang dengan satu cara saja. Terdapat dua manifestasi klinis utama yang dilaporkan oleh para ahli:
-
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Umum ditemukan di Asia dan Eropa. Gejalanya meliputi demam, perdarahan, hingga gagal ginjal akut.
-
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Sering dilaporkan di benua Amerika, menyerang paru-paru dan menyebabkan sesak napas akut yang sering kali berujung pada gagal napas.
Di Indonesia sendiri, jenis yang paling dominan ditemukan adalah Seoul virus (SEOV). Virus ini dibawa oleh tikus rumah (Rattus rattus) dan tikus got (Rattus norvegicus).
Karena inangnya hidup berdampingan dengan manusia di pemukiman, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan virus yang berasal dari satwa liar di hutan.
Risiko di Kota Besar: Jakarta hingga Denpasar
Kasus Hantavirus di Indonesia 2026 bukan lagi sekadar isu daerah terpencil. Riset menunjukkan jejak virus ini telah ditemukan di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Denpasar.
Kondisi urbanisasi yang tidak terkendali, pengelolaan sampah yang buruk, dan permukiman padat menjadi “surga” bagi tikus untuk berkembang biak.
Hal ini menjadi alarm keras bagi masyarakat perkotaan untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi rodensia di sekitar tempat tinggal.
Identifikasi Dini: Gejala yang Menipu
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan Hantavirus adalah gejalanya yang sangat identik dengan penyakit umum lainnya.
Pasien biasanya akan mengalami demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan pada tahap awal. Jika tidak segera terdiagnosis, kondisi dapat memburuk dengan cepat tergantung pada organ yang diserang.
Langkah preventif seperti menutup akses tikus ke dalam rumah, membersihkan area lembap dengan desinfektan, dan menggunakan masker saat membersihkan gudang atau area kotor sangat disarankan untuk menekan risiko penularan.











Respon (1)
Komentar ditutup.